Saturday, March 19, 2011

FILSAFAT SENI JAKOB SUMARDJO MENURUT SAYA


SENI SEBAGAI EKSPRESI
            Ekspresi dalam seni adalah sebuah pengungkapan seniman dalam sebuah proses kreatif melalui medium seni. Ungkapan-ungkapan yang dipresentasikan seniman lewat media seni dapat memiliki ragam komentar tergantung penanggap seninya. Kreativitas seniman menjadi tantangan bagi masyarakat seni dalam menafsirkan ide, makna dan segala sesuatu yang seniman ingin ungkapkan, hamper sama seperti permainan logika.
            Kreativitas seniman ada karena ada pendahulunya dan merupakan upaya agar menjadi ‘beda’ tanpa menghilangkan makna. Seniman yang baik adalah seniman yang membuat perubahan atau pembaruan menjadi lebih nyaman, sesuai, dengan menutup puzzle yang hilang dari pendahulunya.
            Akar kreativitas seniman adalah tradisi yang ada pada lingkungannya. Sesuai dengan waktu yang terus berjalan dan tidak akan mundur lagi, maka seniman diharapkan membuat karya yang maknanya tetap berlaku pada tradisinya dan disesuaikan dengan zaman yang sedang dialami oleh seniman tersebut.
            Tujuan seni adalah agar masyarakat dapat memetik manfaat, baik secara etik maupun estetik dan logika. Baik seni untuk masyarakat ataupun seni untuk seni, keduanya sama-sama memiliki manfaat bagi masyarakat. Kreativitas seniman juga diuji dalam mempresentasikan karya seninya, hal ini berkaitan dengan teknik dan keahlian pengolahan media seni yang dimiliki oleh seniman. Tujuannya cukup jelas, yaitu agar masyarakat dapat hidup berdampingan dengan seni yang memberi manfaat.
            Mengenai moralitas seniman yang terkadang terpojok oleh karena banyak tekanan dari berbagai faktor, baik ekonomi, politik maupun banyak hal lain, hal tersebut menjadi tanggung jawab semua pihak dalam memposisikan seni “sebagai apa?” dalam masyarakatnya. Yang terpenting adalah seniman tidak menggadaikan makna untuk hal yang murahan.

SENI SEBAGAI BENDA
            Seni akan berubah makna pada setiap zaman, setting dan situasi di mana seni itu berada. Seni digolongkan berdasarkan indera yang dimiliki manusia dan material seni, karena manusialah yang akhirnya akan menggunakan seni tersebut demi tujuannya dan material sebagai bentuk karya seni.
            Seni terbagi dalam beberapa golongan antara lain seni visual, seni audio dan seni audio-visual sisanya adalah pengembangan lewat peleburan, kolaborasi, teknologi dan kemampuan teknis lain dari seniman. Hasil karya seniman yang dipresentasikan lewat media dan material atau benda seni akan memiliki nilai  dari masing-masing individu penanggap seni maupun masyarakat yang berkaitan dengan setting dimana karya seni itu berada.
            Fungsi dari benda seni semata-mata adalah dokumentasi dari nilai seni yang terkandung di dalamnya. Nilai yang terkandung dalam benda seni terdapat pada estetika (etika, logika) dan makna yang terkandung dalam benda seni tersebut. Estetika dalam bentuk seni dapat dianalisa lewat material yang digunakan, makna yang terkandung dalam benda seni dapat dilihat dari fungsi dalam masyarakat. Masyarakat yang memandang seni sebagai estetik disebut formalis dan masyarakat yang memandang seni dari makna yang terkandung dari benda seni disebut philistin.  Masyarakat formalis lebih memandang seni secara teknis dan teoritis, sedangkan masyarakat philistin melihat “apa” yang terkandung dalam bentuk dari seni.
            Seni yang memiliki makna adalah seni yang dapat menggiring penikmatnya kedalam tujuan seni tersebut. Sebuah karya seni memiliki tujuan menginformasikan sesuatu, dan jika  informasi tersebut dapat ditangkap oleh penikmatnya, maka seni tersebut memiliki makna. Makna yang terkandung benda seni juga dapat artikan beragam tergantung dimana posisi penanggap seni tersebut.

SENI SEBAGAI NILAI
            Seni sebagai nilai akan dikembalikan kepada masyarakat seni itu sendiri, bagaimana seni diposisikan didalam pikiran masyarakat tersebut. Bersifat subjektif dan memiliki tantangan yang luar biasa bagi senian agar usaha mempresentasikan seni yang dilakukan dapat “diakui” nilainya. Popular atau tidaknya sebuah seni bukan acuan dari keberhasilan seniman membuat benda seni menjadi bernilai, kualitas yang didambakan masyarakat setidaknya dapat menjadi acuan dalam usaha “seni mendapatkan nilainya”.
            Nilai yang dapat diambil dari seni adalah filsafat yang terkandung didalamnya. Hal yang menjadikan seni sangat bernilai dimulai dari kualitas baik estetik, logika dan etika. Penanggap seni yang baik akan melihat seni dari berbagai sudut agar mendapatkan nilainya. Bisa jadi benda yang biasa saja menjadi sangat mahal jika benda tersebut “diciptakan” dalam kondisi-kondisi yang dianggap individu atau kelompok sangat bersejarah. Seperti naskah kuno Majapahit dalam toko buku yang kecil di simpang jalan jika ada.
            “Seni merupakan penawar sakit disaat manusia membutuhkan ketenangan jiwa”.

SENI SEBAGAI PENGALAMAN
            Pengalaman seni merupakan respon estetik yang merupakan modal dasar individu sebagai kritikus seni, seniman atau masyarakat intelektual seniman lainnya. Pengalaman seni merupakan pengalaman yang utuh meliputi indrawi dan ragawi. Memiliki level atau tingkatan keahlian yang terstruktur berdasarkan berbagai hal yang sudah dibuat, dimaknai dan disimpulkan dan bersifat subjektif.
            Pengalaman artistik merupakan pengalaman yang diperoleh atas usaha berkarya dengan acuan-acuan karya seni sebelumnya. Pengalaman artistic juga dapat menjadi dasar atas “tindakan spontan” saat seniman dalam proses berkarya. Seniman sebagai manusia yang memiliki pola berpikir “kurang puas” akan membuat suatu karya yang baru, memodifikasi tradisi dan mempresentasikan kontradiksi dalam masyarakatnya, hal ini dinamakan seniman avant gardist.
            Dalam memproduksi karya seni baik yang main stream maupun avant garde mau tidak mau berkaitan dengan material yang digunakan untuk menerjemahkan gagasan yang ada pada seniman tersebut. Penanggap seni akan menjadi wasit, hakim dan atau penengah dalam menangkap gagasan yang dibuat seniman lewat benda seni.
            Seni merupakan suatu hal  independent yang masing-masing individu dapat menilainya dari segi manapun tanpa tekanan darimanapun. Seni adalah bentuk dokumentasi dari zamannya dan dapat diartikan baragam opini dari siapapun. Yang merupakan kesalahan tafsir atas seni adalah tafsir atau pendapat dari seniman pembuat yang dibenarkan secara mutlak. Dengan begitu penanggap seni telah memenjarakan pendapatnya yang seharusnya bebas dalam penafsiran subjektif, namun penafsiran subjektif tersebut akan jauh lebih bermakna jika penanggap seni tersebut telah memiliki sejumlah syarat dalam menilai sebuah karya seni, pengalaman seni salah satunya.
            Menilai sebuah karya seni yang nantinya akan bersifat subjektif akan bersinggungan dengan selera dari penanggap seni tersebut. Selera yang ada pada penanggap seni berdiri diatas latar belakangnya seperti lingkungan, pendidikan, pengalaman seni. Penanggap seni yang memiliki latar belakang yang lebih baik dari penanggap seni yang lain akan lebih bijaksana dalam menilai sebuah karya seni.
            Kepentingan individu juga menjadi penjara dalam memaknai nilai seni. Sebut saja ekonomi, sebuah kelompok musik asal Bandung ST12 yang popular saat ini. Menurut penulis, kelompok musik tersebut menggadaikan makna seni musik demi beberapa nilai uang yang seharusnya berkarya berdasarkan kejujuran dan presentasi dari kemampuan yang sebenarnya. Kelompok musik tersebut sebenarnya memiliki modal berkesenian yang jauh lebih eksplosif jika digunakan dengan semestinya, namun besar kemungkinan karena terjebak dengan iming-iming  popularitas dan ekonomi, kelompok musik tersebut rela menggadaikan makna seni, mengecoh masyarakat dengan sajian kualitas musik yang “tidak pintar”, itu salah satu bentuk subjektifitas apresisasi penulis dalam mengkritisi karya yang dibuat oleh sebuah kelompok musik  yang sudah disebut.

PUBLIK SENI
            Publik seni adalah masyarakat yang ada pada lingkungan seniman dan memiliki latar belakang yang berbeda. Dari latar belakang yang berbeda tersebut pula hadir “nilai” yang beragam tentang seni dan benda seni. Seni tidak hanya melulu tentang benda seni dan seniman yang membuatnya, masyarakat seni merupakan “pasar” yang akan mengkonsumsi seni tersebut, hasilnya adalah nilai seni, pengakuan, penolakan segala komentar konstruktif maupun destruktif dan hal tersebut yang membuat seni berkembang ditangan seniman.
            Salah satu peran masyarakat dalam menilai seni adalah hadirnya kritikus seni dan atau kurator. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman seni lebih dari mayoritas masyarakat penikmat seni. Masyarakat juga perlu memproduksi kritikus-kritikus seni yang handal lewat pendidikan yang mapan baik itu melalui adopsi budaya barat maupun optimalisasi dari kearifan lokal Indonesia.
            Seniman dan budayawan menggunakan seni sebagai media kritik. Sebut saja Butet Kertarejasa, dalam tayangan Program televisi “Sentilan Sentilun” menyajikan obrolan-obrolan ringan namun tajam yang megkritik pemerintah Indonesia dalam berbagai hal terutama kesalahan-kesalahan yang ada pada sistem atau skandal yang ada Indonesia. Gaya kesenian yang dibuat sepopuler mungkin, yang diharapkan dapat dimengerti oleh orang Indonesia kebanyakan. Apa yang dilakukan Butet dalam program itu merupakan kritik dengan media seni, memiliki pesan moral pada masyarakat dan negarawan.
            Cendekiawan, negarawan dapat menggunakan isi seni dalam mengubah pola pikir dalam memerintah. Kritik sosial yang dilakukan oleh Butet sedikitnya sudah mewakili opini masyarakat Indonesia tentang negaranya, negarawan yang baik harusnya dapat menyimpulkan sesuatu dari karya seni tersebut dan membuat kebijakan-kebijakan yang baik pula. Seniman juga memiliki tanggung jawab dalam mencerdaskan masyarakat agak dapat memahami seni, membuat buku yang berkenaan dengan keahliannya dengan bahasa yang dipahami masyarakat adalah salah satu cara agar masyarakat tidak tersandung dengan masalah lain disaat sedang memecahkan masalah.
KONTEKS SENI
            Masyarakat memiliki sebuah sistem yang baik dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tujuannya adalah ketentraman. Seni merupakan hal yang juga terstruktur, rapi, namun sangat dinamis, sangat fleksibel berperan sesuai dimana dan bagaimana karya seni itu dibuat. Seniman merupakan bagian masyarakat yang bertanggung jawab atas dinamika tersebut.
            Seni awalnya dibuat oleh seniman berdasarkan apa yang berlaku di masyarakat dan memiliki kebermanfaatan bagi masyarakatnya. Seperti air yang mengikuti aliran sungai yangh lebih rendah, seni sangat fleksibel sesuai bagaimana seniman membuatnya. Terkadang seni dimodifikasi jauh dari nilai aslinya demi mendapatkan suatu hal yang baru bahkan mungkin seniman mendobrak tadisi dalam sebuah masyarakat sehingga karya seni tersebut ditolak dalam lingkungan masyarakat tersebut, hal tersebut merupakan resiko yang harus ditanggung seniman demi mengembanghkan nilai seni dalam masyarakat. Yang bijaksana adalah masyarakat dan seniman saling membantu memahami satu sama lain dalam membuat karya seni dan dalam menerima nilai-nilai seni yang terkandung dalam bentuk baru.
            Ilmu pengetahuan dan seni memiliki kedudukan yang sejajar dan saling terkait satu sama lain. Dengan ilmu pengetahuan, pengembangan unsur-unsur berkesenian dapat dengan mudah berkembang. Contoh sederhana adalah printer, printer adalah produk ilmu pengetahuan yang berbasis seni berfungsi sebagai alat cetak. Seni cetak ada jauh sebelum mesin printer diciptakan. Satu hal mempresentasikan dua bidang ilmu yang sejajar, yaitu ilmu pengetahuan dan seni. 
            Seni adalah keindahan, kehamonisan dan lebih didominasi oleh banyak kebaikan. Dalam politik yang identik dengan jargon “politik itu jahat”, sepertinya diperlukan meditasi jiwa lewat seni bagi orang-orang yang ada didalam politik itu sendiri. Berfungsi sebagai healing disaat stress tingkat tinggi yang melanda jika memang benar politik itu “jahat”. Seni sebagai obat bagi hal negatif agar kembali natural dan jernih.
            Kembali kedalam sejarah umat manusia yang menyebabkan adanya hari ini. Masa lalu adalah bahan ajar yang baik, untuk diperbaiki demi masyarakat yang tentram. Dokumentasi-doklumentasi masa lalu merupakan bahan analisis bagi para ilmuwan dan seniman agar dapat mengetahui latar belakang “siapa kita” sebenarnya. Indonesia sebagai bangsa yang besar, yang memiliki sejarah seni yang panjang pula, dapat melihat jati diri bangsa kita sendiri lewat seni-seni masa lalu. Dapat menggunakan ideologi asli bangsa dalam menjalani kehidupan yang tentram sekaligus dapat menjadi tawaran bagi bangsa lain tentang konsep kehidupan yang bangsa ini miliki.

           
           
           


ditulis oleh irvandi yusup, 2010

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home